Pernah gak sih kamu ngerasa.. hampa, tanpa arah dan mulai menanyakan segala arti kehidupan? Banyak sekali hal-hal yang ada di dalam pikiran namun kita kadang kesulitan untuk mengekspresikannya? That feeling just definitely ruins your good mood, isn't it? Rasanya tuh kadang bikin kita malas mendadak. Bukan karena tidak punya rencana, tapi justru karena banyak sekali rencana yang ingin kita realisasikan. Dari rencana pendidikan sampai karir masa depan. Itu semua berkecamuk di dalam pikiran. Karena saking mikirin itu semua, akhirnya cuma jadi srolling ponsel doang sambil duduk lama atau rebahan. Entah itu sambil scrolling reels Intasgram atau timeline medsos yang lain. Setelah berjam-jam buang-buang waktu, tiba-tiba tersadar dengan sebuah pertanyaan, "Apa sih dewasa? masa sih aku mau gini-gini aja? gak mungkin kan gua cuman scrolling hp doang." lalu hpmu, kamu simpan. Entah itu di dalam tas atau cuman di atas meja. Setelah itu, satu tarikan nafas panjang ditarik dengan berat. Hah~ ternyata jadi dewasa gakm seasik yang aku bayangin waktu kecil.
Ya!
Perasaan itu wajar. Ngerasa capek bahkan belum aja ngemulai apa yang udah direncanain di dalam kepala, hal itu wajar. Hei, gak apa-apa kok ngerasa begitu. Toh, bunga aja gak maksa untuk bersemi di musim dingin, kan? So why do you have to force yourself to bloom?
Aku juga terkadang merasakan hal yang sama, kok. Mungkin aku terkadang lebih parah. I ain't gonna compared our fate, tho.. tapi ayo saling mengakui saja. Kita semua pernah berada di keadaan yang sama. Merasa capek dengan keadaan, merasa lelah dengan semua usaha yang sedang atau sudah kita usahakan namun kita tak kunjung memetik hasilnya. Memang begitulah dewasa. Menjadi dewasa tidak pernah semudah kita mengucap cinta kepada seseorang walau cuman untuk menyenangkan hatinya, atau, yang paling buruk, mengucap cinta karena rasa kasihan.
Menjadi dewasa adalah tentang seberapa kuat kita kembali bangkit dan berdiri kembali diatas kedua kaki kita sendiri, kembali berjuang lagi meskipun terus menerus ditempa banyaknya masalah yang gak pernah kita tau arahnya darimana. Menjadi dewasa itu tentang seberapa bijak kita menghadapi dan mengatasi semua permasalahan yang ada, tentang sikap kita terhadap lingkungan dan masyarakat, tentang aku atau kamu yang terus melangkah demi mimpi yang ditaruh di angakasa dan diantara gugusan bintang yang bersinar. Iya, tentang kamu yang terus memungut setiap lilin seterang apapun cahaya di gelapnya perjalananmu menuju kesuksesan, tentang kamu yang tau walaupun cahaya itu tidak cukup untuk menerangi perjalananmu menuju masa depan tetapi jika kamu terus menerus memungut dan mengumpulkannya, suatu saat jalanmu akan terang. Terus berusaha dan berdo'alah, kawan. Menjadi dewasa memang sebuah tahapan paling sulit dalam hidup. Ya, setidaknya itulah yang aku rasakan.
Seseorang yang aku panggil Papi pernah bilang padaku begini:
"If you think you're so small in this universe and you know your abilities are less than others, then learn. Pemenang selalu fokus untuk meningkatkan value, pencundang cuman bisa banding-bandingin. Tidak semua orang bisa ada di posisimu sekarang, tidak semua orang mengalami perjuangan yang sama dengamu. Mungkin saja bagi orang lain perjuangan merekalah yang lebih sulit dan perjuanganmulah yang mudah atau mungkin juga sebaliknya. Intinya begini, hentikan kebiasaan merasa useless dan lain-lain. Dibandingkan kamu minder, mending kamu pikirin gimana caranya kamu bisa seperti mereka or even better. Kalau kamu sadar kemampuanmu di bawah standar, then learn harder, put more effort. Tidak ada waktu untuk bersedih atau undervalue diri sendiri."
Sekarang, ayo. Kembali lagi bangkit. Mulailah lakukan semua yang kamu rencanakan satu persatu dan hari demi hari. Buatlah target hari ini harus selesai apa, esok harus selesai apa. Great things takes time. Ayo, berjuang lagi, kuatkan lagi usaha dan doa'mu kepada Sang Pencipta dan Pemilik langit berserta bumi. Percaya deh, Tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah ikut terlibat dalam setiap rencanamu. Ingatlah kembali kalau kamu punya mimpi yang harus kamu wujudkan. Jika bukan kamu, memangnya siapa yang akan membuat mimpimu menjadi nyata? Lagipula, pilihannya hanya ada dua. Berkorban untuk mimpimu atau mimpimu yang harus dikorbankan? Kuserahkan pilihan itu padamu, teman.
Comments