Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu Kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantra. Sebagai salah satu kerajaan yang terbesar, Sriwijaya berkuasa dan menyebarkan pengaruh politiknya di berbagai bidang termasuk bidang ekonomi , politik, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya juga mengendalikan jalur perdagangan maritim antara India dan Tiongkok yang mana hal ini menjadikan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat berkumpulnya para cendekiawan dan biksu dari seluruh penjuru dunia. Secara geografis, Sriwijaya tidak hanya menguasai wilayah Sumatera tetapi juga meluas hingga Semenanjung Malaya, Thailand, sebagian kepulauan dari Filipina, Pesisir Vietnam, dan Kamboja. Sebagai kerajaan terbesar yang menguasai jalur perdagangan maritim, Kerajaan Sriwijaya jelas memiliki armada laut yang sangat kuat untuk mempertahankan kekuasaannya serta untuk mengendalikan lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Hal itu semua telah berhasil menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan paling makmur pada masanya, terlebih di tahun kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.
Terlepas dari itu semua, mari kita ulik secara terperinci
dan singkat tentang sejarah Raksasa Maritim Nusantara ini.
Asal Usul dan
Pendiri Kerajaan Sriwijaya
Pada dasarnya, penamaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari kerajaan
Sangsekerta yang berarti kemenangan yang sangat gemilang. Kerajaan ini memulai sejarah
panjang kerajaannya dari wilayah Palembang di Sumatera Selatan. Berdasarkan
catatan Prasasti Kedukan Bukit (683 M) menyebutkan adanya seorang raja bernama
Dapunta Hyang yang memimpin ekspedisi besar dan menaklukkan berbagai daerah. Dari
catatan prasasti ini menandakan bahwa ekspansi Kerajaan Sriwijaya sebagai
kerajaan maritim pun telah dimulai.
Kejayaan Sriwijaya Sebagai Kerajaan Maritim
Puncak kejayaan kerajaan Sriwijaya terjadi pada abad ke-8
hingga ke-9 Masehi atau kurang lebih seratus tahun lamanya. Selama masa kejayaannya,
Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai jalur perdagangan utama di Selat Malaka
yang kala itu merupakan pusat pedagang dari Tiongkok, India, dan Timur Tengah. Sementara
Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, kerajaan tersebut
juga menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, emas, dan barang mewah lainnya. Hal
lain yang menyebabkan kerajaan ini semakin berkuasa adalah letak geografis kerajaan
yang sangat strategis menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai pengendali utama
perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.
Selain terkenal sebagai Raksasa Maritim Asia Tenggara, Kerajaan
Sriwijaya juga terkenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya bisku dan cendekiawan dari Tiongkok seperti I-Tsing yang
datang ke Sriwijaya dengan Dinasti Tang dari Tiongkok. Adapun kedatangan mereka
ke Kerajaan Sriwijaya jelas karena Sriwijaya menghubungkan Daratan Tiongkok dan
Timur Tengah. Sebagai bagian dari
diplomasinya dengan Tiongkok, Kerjaan Sriwijaya sering mengirim utusan ke
Tiongkok untuk berbagai alasan yang salah satunya adalh untuk memastikan
keamanan jalur laut bagi para pedagang Tiongkok yang melintasi Asia Tenggara.
Dinasti Tang juga mengakui kedaulatan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan yang
memiliki pengaruh besar di jalur perdagangan maritim ini sehingga pertukaran budaya
dan intelektual di antara kedua wilayah sangat memungkinkan untuk terjadi.
Kerajaan Sriwijaya juga memiliki hubungan yang baik dengan
berbagai kerajaan di India terlebih itu memiliki kaitan dengan ajaran Buddha
Mahayana yang berkembang pesat di wilayah tersebut. Sriwijaya juga menjalin hubungan
Erat dengan Nalanda yang pada waktu itu adalah salah satu pusat pembelajaran
Buddha terbesar di India. Hal ini menyebabkan banyak sekali biksu dari Sriwjaya
yang melanjutkan pendidikan mereka di sana. Pengaruh kebudayaan dan agama dari India
di kerajaan Sriwijaya dapat dilihat dalam seni arsitektur dan bahasa sanskerta
yang terpahat abadi dalam berbagai prasasti serta praktik ritual dalam kerajaan
ini. Hubungan diplomatik ini berhasil menjadikan kerajaan Sriwijaya sebagai penghubung utama antara peradaban
India dan Asia Timur serta berhasil memperkuat posisi Kerajaan Sriwijaya sebagai
pusat keagamaan dan perdagangan internasional di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai bukti dari kejayaannya, prasasti berikut menjadi bukti abadinya. Itu semua antara lain:
- Prasasti Kedudukan Bukit (683 M) – menyebutkan
ekspedisi militer dan penaklukan wilayah oleh Dapunta Hyang.
- Prasasti Talang Tuo (684 M) – menunjukkan pembangunan
taman dan perhatian raja terhadap kesejahteraan rakyat.
- Prasasti Kota Kapur (686 M) – Menunjukkan
ekspansi militer Sriwijaya ke Pulau Bangka.
- Prasasti Telaga Batu – Berisi kutukan bagi siapa pun yang berkhianat
terhadap kerajaan Sriwijaya.
- Catatan I-Tsing (671 M) – menceritakan
pengalaman seorang biksu Tiongkok yang belajar di Sriwijaya.
Hancurnya Kerajaan Sriwijya
Setelah berkuasa selama berabad-abad, Kerajaan Sriwijaya mengalami
kemunduran akibat menerima serangan dari kerajaan lain. Yang paling parah
dampaknya adalah serangan dari Raja Rajendra Chola I yang berasal dari Kerajaan
Chola atau India pada saat ini. Serangan itu terjadi pada tahun 1025 yang
berhasil melemahkan kekuatan militer dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya. Melemahnya
kekuatan militer dan ekonomi kerajaan Sriwijaya membuat penguasa perairan selat
Malaka itu menjadi rentan terhadap serangan dari kerajaan-kerajaan yang lainnya.
Selain daripada perang dan serangan-serangan dari kerajaan
lain, kerajaan Sriwijaya juga menjadi semakin terpuruk dan hancur setelah
kerajaan besar lain seperti Majapahit dan Singasari mulai semakin berkuasa. Pada
akhirnya, Kerajaan Sriwijaya benar-benar
hancur dan runtuh ketika kekuasaannya diambil oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Warisan Kerajaan Sriwijaya
- Setelah hancur, Kerajaan Sriwijaya tidak benar-benar menghilang sepenuhnya. Sebagai kerajaan besar yang dulu memiliki kuasa luar biasa di wilayah maritim selat Malaka, Kerajaan Sriwijaya tentu meninggalkan warisan yang begitu berharga. Di antaranya adalah:
- Prasasti dan Catatan Sejarah – Sejumlah prasasti seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu menjadi bukti kejayaan Sriwijaya.
- Pengaruh Bahasa dan Budaya – Penggunaan bahasa Sanskerta dalam prasasti menunjukkan pengaruh kuat dari India yang masih terlihat dalam bahasa dan budaya Indonesia hingga pada saat ini.
- Jejak Keagamaan – Sriwijaya berperan dalam penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara, yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam candi dan relief di berbagi wilayah.
- Peran dalam Perdagangan – Konsep Sriwijaya sebagai pusat perdagangan Maritim.
Dari penjelasan tersebut dapat dipastikan bahwa Kerajaan
Sriwijaya adalah simbol kejayaan maritim Indonesia di masa lampau terlebih
kerajaan Sriwijaya yang memiliki kekuatan perdagangan, militer, dan kebudayaan
yang luar biasa menjadikan kerajaannya sebagai pusat peradaban yang berpengaruh
di Asia Tenggara. Meskipun telah lama runtuh namun jejak kejayaannya tetap
hidup dalam sejarah dan budaya bangsa Indonesia hingga saat ini.
Referensi:
- Christie,
J. W. (1995). "State Formation in Early Maritime Southeast Asia: A
Consideration of the Theories and the Data." Bijdragen tot de
Taal-, Land- en Volkenkunde 151(2): 235-288.
- Coedès,
G. (1968). The Indianized States of Southeast Asia. University of
Hawaii Press.
- Hall,
K. R. (1985). Maritime Trade and State Development in Early Southeast
Asia. University of Hawaii Press.
- Munoz,
P. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay
Peninsula. Editions Didier Millet.
- Wolters,
O. W. (1999). History, Culture, and Region in Southeast Asian
Perspectives. Cornell University Press.



Comments